Kita mungkin semua tahu orang, baik di tempat kerja atau dalam kehidupan pribadi kita, yang benar-benar pendengar yang baik. No matter what kind of situation we're in, they always seem to know just what to say - and how to say it - so that we're not offended or upset. Tidak peduli apa situasi seperti kita, mereka selalu tampak tahu apa yang harus dikatakan - dan bagaimana mengatakannya - sehingga kami tidak tersinggung atau marah. They're caring and considerate, and even if we don't find a solution to our problem, we usually leave feeling more hopeful and optimistic. Mereka peduli dan perhatian, dan bahkan jika kita tidak menemukan solusi untuk masalah kita, kita biasanya meninggalkan perasaan lebih penuh harapan dan optimis.
Jangan hanya mengikuti, timbal!
We probably also know people who are masters at managing their emotions. Kita mungkin juga tahu orang-orang yang sangat menguasai mengelola emosi mereka. They don't get angry in stressful situations. Mereka tidak marah dalam situasi stres. Instead, they have the ability to look at a problem and calmly find a solution. Sebaliknya, mereka memiliki kemampuan untuk melihat masalah dan mencari solusi dengan tenang. They're excellent decision makers, and they know when to trust their intuition. Mereka pembuat keputusan yang sangat baik, dan mereka tahu kapan untuk percaya intuisi mereka. Regardless of their strengths, however, they're usually willing to look at themselves honestly. Terlepas dari kekuatan mereka, bagaimanapun, mereka biasanya bersedia untuk melihat diri mereka sendiri dengan jujur. They take criticism well, and they know when to use it to improve their performance. Mereka menerima kritik dengan baik, dan mereka tahu kapan harus menggunakannya untuk meningkatkan kinerja mereka.
People like this have a high degree of emotional intelligence, or EI. Orang-orang seperti ini memiliki tingkat kecerdasan emosional tinggi, atau KTI. They know themselves very well, and they're also able to sense the emotional needs of others. Mereka tahu diri mereka sendiri dengan baik, dan mereka juga dapat merasakan kebutuhan emosional orang lain.
Would you like to be more like this? Apakah Anda ingin menjadi lebih seperti ini?
As more and more people accept that emotional intelligence is just as important to professional success as technical ability, organizations are increasingly using EI when they hire and promote. Ketika lebih banyak orang dan lebih menerima bahwa kecerdasan emosional adalah sama penting untuk kesuksesan profesional sebagai kemampuan teknis, organisasi semakin menggunakan EI ketika mereka merekrut dan mempromosikan.
For example, one large cosmetics company recently revised their hiring process for salespeople to choose candidates based on emotional intelligence. Misalnya, salah satu perusahaan besar kosmetik terakhir direvisi untuk proses perekrutan mereka tenaga penjualan untuk memilih calon berdasarkan kecerdasan emosional. The result? Salespeople hired with the new system have sold, on average, $91,000 more than salespeople selected under the old system. Hasil? Wiraniaga disewa dengan sistem baru telah terjual, rata-rata lebih dari $ 91.000 tenaga penjualan dipilih di bawah sistem lama. There has also been significantly lower staff turnover among the group chosen for their emotional intelligence. Ada juga staf omset lebih rendah secara signifikan antara kelompok dipilih untuk kecerdasan emosional mereka.
Rabu, 28 April 2010
Kamis, 08 April 2010
Mengenal Teori Motivasi
Untuk memahami tentang motivasi, kita akan bertemu dengan beberapa teori tentang motivasi, antara lain :
1. Teori Abraham H. Maslow (Teori Kebutuhan)
Teori motivasi yang dikembangkan oleh Abraham H.Maslow pada intinya berkisar pada pendapat bahwa manusia mempunyai lima tingkat atau hierarki kebutuhan, yaitu :
•Fisiologis
•Keamanan, keselamatan dan perlindungan
•Sosial, kasih sayang, rasa dimiliki
•Penghargaan, rasa hormat internal seperti harga diri, prestasi
•Aktualisasi diri, dorongan untuk menjadi apa yang mampu ia menjadi.
Menurut maslow, jika seorang pimpinan ingin memotivasi seseorang, maka ia perlu memahami sedang berada pada anak tangga manakah posisi bawahan dan memfokuskan pada pemenuhan kebutuhan-kebutuhan itu atau kebutuhan dia atas tingkat itu.
2. Teori Motivasi X dan Y
Teori ini dikemukakan oleh Douglas McGregor yang menyatakan bahwa dua pandangan yang jelas berbeda mengenai manusia, pada dasarnya satu negatif (teori X) yang mengandaikan bahwa kebutuhan order rendah mendominasi individu, dan satu lagi positif (teori Y) bahwa kebutuhan order tinggi mendominasi individu.
3. Teori Motivasi - Higiene
Dikemukakan oleh psikolog Frederick Herzberg, yang mengembangkan teori kepuasan yang disebut teori dua faktor tentang motivasi. Dua faktor itu dinamakan faktor yang membuat orang merasa tidak puas atau faktor-faktor motivator iklim baik atau ekstrinsik-intrinsik tergantung dari orang yang membahas teori tersebut. Faktor-faktor dari rangkaian ini disebut pemuas atau motivator yang meliputi:
motivator yang meliputi:
•- prestasi (achievement)
•- Pengakuan (recognition)
•- Tanggung Jawab (responsibility)
•- Kemajuan (advancement)
•- Pekerjaan itu sendiri ( the work itself)
•- Kemungkinan berkembang (the possibility of growth)
4. Teori Motivasi kebutuhan McClelland
Teori ini memfokuskan pada tiga kebutuhan, yaitu :
•- prestasi (achievement)
•- Kekuasaan (power)
•- Afiliasi (pertalian)
5. Teori Motivasi Harapan - Victor Vroom
Teori ini berargumen bahwa kekuatan dari suatu kecenderungan untuk bertindak dengan suatu cara tertentu bergantung pada kekuatan dari suatu pengharapan bahwa tindakan itu akan diikuti oleh suatu keluaran tertentu, dan pada daya tarik dari keluaran bagi individu tersebut.
Teori pengharapan mengatakan seorang karyawan dimotivasi untuk menjalankan tingkat upaya yang tinggi bila ia meyakini upaya akan menghantarkan ke suatu penilaian kinerja yang baik, suatu penilaian yang baik akan mendorong ganjaran-ganjaran organisasional, seperti bonus, kenaikan gaji, atau promosi dan ganjaran itu akan memuaskan tujuan pribadi karyawan tersebut.
6. Teori Motivasi Keadilan
Teori ini didasarkan pada asumsi bahwa orang-orang dimotivasi oleh keinginan untuk diperlakukan secara adil dalam pekerjaan. Individu bekerja untuk mendapat tukaran imbalan dari organisasi
7. Reinforcement theory
Teori motivasi ini tidak menggunakan konsep suatu motif atau proses motivasi. Sebaliknya teori ini menjelaskan bagaimana konsekuensi perilaku dimasa yang lalu mempengaruhi tindakan dimasa yang akan datang dalam proses pembelajaran.
Seberapa kuat motivasi yang dimiliki individu, maka akan banyak menentukan kualitas perilaku yang ditampilkannya, baik dalam konteks belajar, bekerja maupun dalam kehidupan lainnya.
1. Teori Abraham H. Maslow (Teori Kebutuhan)
Teori motivasi yang dikembangkan oleh Abraham H.Maslow pada intinya berkisar pada pendapat bahwa manusia mempunyai lima tingkat atau hierarki kebutuhan, yaitu :
•Fisiologis
•Keamanan, keselamatan dan perlindungan
•Sosial, kasih sayang, rasa dimiliki
•Penghargaan, rasa hormat internal seperti harga diri, prestasi
•Aktualisasi diri, dorongan untuk menjadi apa yang mampu ia menjadi.
Menurut maslow, jika seorang pimpinan ingin memotivasi seseorang, maka ia perlu memahami sedang berada pada anak tangga manakah posisi bawahan dan memfokuskan pada pemenuhan kebutuhan-kebutuhan itu atau kebutuhan dia atas tingkat itu.
2. Teori Motivasi X dan Y
Teori ini dikemukakan oleh Douglas McGregor yang menyatakan bahwa dua pandangan yang jelas berbeda mengenai manusia, pada dasarnya satu negatif (teori X) yang mengandaikan bahwa kebutuhan order rendah mendominasi individu, dan satu lagi positif (teori Y) bahwa kebutuhan order tinggi mendominasi individu.
3. Teori Motivasi - Higiene
Dikemukakan oleh psikolog Frederick Herzberg, yang mengembangkan teori kepuasan yang disebut teori dua faktor tentang motivasi. Dua faktor itu dinamakan faktor yang membuat orang merasa tidak puas atau faktor-faktor motivator iklim baik atau ekstrinsik-intrinsik tergantung dari orang yang membahas teori tersebut. Faktor-faktor dari rangkaian ini disebut pemuas atau motivator yang meliputi:
motivator yang meliputi:
•- prestasi (achievement)
•- Pengakuan (recognition)
•- Tanggung Jawab (responsibility)
•- Kemajuan (advancement)
•- Pekerjaan itu sendiri ( the work itself)
•- Kemungkinan berkembang (the possibility of growth)
4. Teori Motivasi kebutuhan McClelland
Teori ini memfokuskan pada tiga kebutuhan, yaitu :
•- prestasi (achievement)
•- Kekuasaan (power)
•- Afiliasi (pertalian)
5. Teori Motivasi Harapan - Victor Vroom
Teori ini berargumen bahwa kekuatan dari suatu kecenderungan untuk bertindak dengan suatu cara tertentu bergantung pada kekuatan dari suatu pengharapan bahwa tindakan itu akan diikuti oleh suatu keluaran tertentu, dan pada daya tarik dari keluaran bagi individu tersebut.
Teori pengharapan mengatakan seorang karyawan dimotivasi untuk menjalankan tingkat upaya yang tinggi bila ia meyakini upaya akan menghantarkan ke suatu penilaian kinerja yang baik, suatu penilaian yang baik akan mendorong ganjaran-ganjaran organisasional, seperti bonus, kenaikan gaji, atau promosi dan ganjaran itu akan memuaskan tujuan pribadi karyawan tersebut.
6. Teori Motivasi Keadilan
Teori ini didasarkan pada asumsi bahwa orang-orang dimotivasi oleh keinginan untuk diperlakukan secara adil dalam pekerjaan. Individu bekerja untuk mendapat tukaran imbalan dari organisasi
7. Reinforcement theory
Teori motivasi ini tidak menggunakan konsep suatu motif atau proses motivasi. Sebaliknya teori ini menjelaskan bagaimana konsekuensi perilaku dimasa yang lalu mempengaruhi tindakan dimasa yang akan datang dalam proses pembelajaran.
Seberapa kuat motivasi yang dimiliki individu, maka akan banyak menentukan kualitas perilaku yang ditampilkannya, baik dalam konteks belajar, bekerja maupun dalam kehidupan lainnya.
Langganan:
Postingan (Atom)
